Syukur: Seni Hidup merubah Derita Menjadi bahagia,
Robert Emmons, profesor psikologi di University of California, Davis, yang dijuluki pakar ilmiah terdepan dalam bidang syukur, bersama Michael McCullough melakukan studi eksperimental pada 2003 yang membagi partisipan ke dalam tiga kelompok; menulis hal yang disyukuri, menulis beban harian, dan menulis peristiwa netral. Setelah sepuluh pekan, kelompok yang rutin bersyukur melaporkan tingkat kebahagiaan 25 persen lebih tinggi, berolahraga 1,5 jam lebih banyak per pekan, dan mengalami lebih sedikit keluhan fisik dibanding kelompok lain.
Dalam Hal ini menunjukkan bahwa mengeluh tidak menyelesaikan masalah, tetapi malah memperpanjang usia masalah tersebut dihati dan fikiran kita, sambat juga memberikan Sebuah konsepsi dasar bahwa mengeluh tidak mengurangi Problematika yang ada, namun juga memberikan jalan buntu dalam menemukan pintu solusi pada problem hidup yang Ada.
Justru Rasa Bersyukur itu membuka berbagai peluang vibrasi Positif untuk menemukan solusi dan jalan keluar dari sulitnya Medan, berliku nya jalan hidup yang membentang. Karena itu Nash/kepastian yang Allah Firman kan dalam Al-Qur'an ููููููู ุดูููุฑูุชูู ู ููุงูุฒูููุฏููููููู ู ููููููููู ููููุฑูุชูู ู ุงูููู ุนูุฐูุงุจููู ููุดูุฏูููุฏู
Konklusi dari ayat itu Syukur=tambah kebaikan
Syukur= tambah nikmat
Syukur= tambah terbuka Dst
Dengan kata lain Syukur membuat Orang punya berbagai opsi dan beragam pandangan Hidup yang lebih positif dalam menjalani kehidupan
Seorang Pekerja yang pulang dari pekerjaan nya selalu Mengeluh akan berbeda pembawaan dan sikap yang ditampilkan di rumah dengan pekerja yang pulang dari pekerjaan ia tersenyum dan bersyukur, karena masih diberikan kesempatan bekerja dan pulang dengan selamat, 2 hal ini peristiwa nya sama yakni pulang kerja namun atmosfir dan getaran batinnya Berbeda karena cara pandang nya berbeda yang satu bersyukur dan yang satu mengeluh
Pertanyaan yang muncul kemudian Bagaimana keluhan berubah menjadi senyuman, kebingungan berubah menjadi keteduhan dan kekesalan menjadi kesyukuran,
Setidaknya Ada 2 Unsur yang bisa di perbaiki untuk merubah peta jalan Kehidupan Kita
1. Dzikir dihati
Dzikir Adalah Mengatur Ulang resonansi dan gelombang yang ada didalam Hati agar lebih stabil, dzikir juga memperbaiki fluktuasi emosi yang kadang pasang terkadang juga surut supaya lebih tertata, terjaga dan menghujam kuat didalamnya sehingga tidak mudah goyah, karena namanya Hati memang gampang berubah, kadang suka kadang duka, kadang cinta kadang benci disitulah dibutuhkan stabilisasi agar tidak terlalu mudah baper dan gampang ovefeeling
" (ุฃูููุง ุจูุฐูููุฑู ูฑูููููู ุชูุทูู ูุฆูููู ูฑูููููููุจู)
"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram."
Dzikir dihati dan syukur punya kaitan erat yang tidak bisa dipisahkan, Berdasarkan riwayat dari Abdullah bin Wahb dari Zaid bin Aslam, Nabi Musa AS pernah bertanya:
โWahai Tuhanku, bagaimana aku bersyukur kepada-Mu?โ
Lalu Allah SWT menjawab:
โIngatlah Aku dan jangan kamu lupakan Aku. Apabila kamu ingat kepada-Ku, berarti kamu telah bersyukur kepada-Ku. Apabila kamu lupa kepada-Ku, berarti kamu telah kufur (ingkar) kepada-Ku.โ
2. Berpikir Logis dan Reflektif
Berpikir logis-reflektif adalah kemampuan seseorang untuk menggunakan penalaran yang masuk akal, berdasarkan fakta dan hubungan sebab-akibat, sekaligus mengevaluasi kembali pemikiran, keputusan, dan tindakannya secara kritis.
Keduanya saling melengkapi: berpikir logis membantu kita menentukan apakah suatu kesimpulan masuk akal, sedangkan berpikir reflektif membantu kita menilai apakah cara berpikir dan keputusan kita sudah tepat.
Misalnya, seorang siswa memperoleh nilai ujian yang rendah.
Respons emosional: โSaya memang tidak pintar.โ
Berpikir logis: โNilai saya rendah. Apakah penyebabnya kurang belajar, salah memahami materi, atau kurang teliti?โ
Berpikir reflektif: โMetode belajar saya ternyata belum efektif. Saya perlu mengevaluasi kebiasaan belajar dan mencoba strategi yang berbeda.โ
Keputusan berdasarkan keduanya: Menyusun jadwal belajar, berlatih soal, meminta penjelasan guru, kemudian mengukur hasilnya.
Dengan demikian, seseorang tidak berhenti pada penilaian atau keluhan, tetapi bergerak menuju solusi, pemahaman dan perbaikan.