TAZKIYATUN NAFS DAN PENGENDALIAN EGO: MEKANISME PROTEKTIF TERHADAP NARCISSISTIC TRAITS DI PESANTREN
Kajian psikologi kepribadian menunjukkan bahwa kecenderungan narsistik—ditandai grandiosity, kebutuhan berlebihan akan pengakuan (need for admiration), rasa superioritas, entitlement, eksploitasi interpersonal, dan rendahnya empati—tidak selalu berada pada level gangguan kepribadian klinis. Pada populasi umum, termasuk remaja, kecenderungan ini dapat ditemukan dengan intensitas berbeda-beda dan memengaruhi relasi interpersonal, kemampuan menerima kritik, kemampuan bekerja sama, empati, respons terhadap kegagalan, kebutuhan pengakuan, hingga pembentukan karakter secara keseluruhan (Moordiningsih, 2021).
Yang menarik untuk dikaji bukan bagaimana kecenderungan ini tumbuh di ruang digital—yang telah banyak diteliti (Kusuma, Setyanto, & Khasan, 2019; Laeli, Sartika, Rahman, & Fatchurrahmi, 2018; Dalimunthe & Sihombing, 2020)— melainkan bagaimana ia dipahami dan dikelola dalam lingkungan pendidikan yang relatif berbeda dari kehidupan sosial digital, yaitu pesantren. Pesantren bukan sekadar lembaga transfer pengetahuan agama, melainkan lingkungan yang membentuk kebiasaan, karakter, adab, relasi sosial, dan orientasi kepribadian santri melalui keteladanan kiai, pembiasaan, disiplin, ibadah, khidmah, dan kehidupan komunal. Pertanyaannya “apakah sistem pembinaan tersebut memiliki mekanisme tertentu dalam mengelola ego santri?”
Islam memiliki tradisi panjang mengenai pembinaan dan penyucian jiwa melalui konsep Tazkiyatun Nafs, mencakup muhasabah, mujahadah al-nafs, ikhlas, tawadu', qana'ah, dan pengendalian hawa nafsu (Rohman, 2020; Rahman, Supriadi, & Fahrudin, t.t.). “Ego” dalam kajian ini tidak dipahami sebagai “kesombongan” secara populer, melainkan dioperasionalkan sebagai kemampuan individu mengenali dan mengelola dorongan diri yang berkaitan dengan superioritas, kebutuhan pengakuan, defensiveness, dan pemusatan diri—sehingga memunculkan pengendalian ego sebagai mekanisme yang hendak dieksplorasi. setidaknya ada 3 kerangka yang bisa dikaji lebih lanjut untuk digunakan secara terintegrasi untuk membaca bagaimana sistem pembinaan pesantren berfungsi sebagai mekanisme protektif psikologis berbasis spiritualitas Islam.
pertama, Narcissistic traits merujuk pada pola kepribadian yang ditandai grandiosity, kebutuhan admirasi berlebihan, rasa superioritas, entitlement, eksploitasi interpersonal, dan rendahnya empati, berada pada rentang dari kecenderungan ringan pada populasi umum hingga gangguan kepribadian klinis/NPD (Moordiningsih, 2021).
kedua, Tazkiyatun Nafs adalah konsep penyucian jiwa dalam tradisi Islam yang bertujuan mengembalikan manusia pada fitrahnya melalui muhasabah (introspeksi diri), mujahadah al-nafs (perjuangan melawan hawa nafsu), ikhlas, tawadu' (rendah hati), qana'ah (kecukupan diri), dan pengendalian hawa nafsu (Rohman, 2020; Rahman, Supriadi, & Fahrudin, t.t.). Konsep ini menjadi kerangka spiritual untuk membaca proses pembentukan kepribadian santri.
ketiga, Pengendalian ego dioperasionalkan sebagai kemampuan individu mengenali dan mengelola dorongan diri yang berkaitan dengan superioritas, kebutuhan pengakuan, defensiveness, dan pemusatan diri, dibaca melalui literatur selfregulation dan self-control dalam psikologi kepribadian sebagai perangkat analitis, bukan konstruk yang diuji terpisah. Ketiga kerangka ini digunakan secara terintegrasi untuk membaca bagaimana sistem pembinaan pesantren berfungsi sebagai mekanisme protektif psikologis berbasis spiritualitas Islam.
ditulis oleh: isrotin,mahada, bintang